Biodataviral.com - Setelah aku menikmati makan siangku seorang diri, sampai aku merasa kenyang sekali, aku menuju ke ruang tamu, duduk di sofa panjang dan berusaha untuk mencari bahan bacaan untuk menghabiskan waktu, akan tetapi aku tidak menemukannya. Dengan demikian timbul keisenganku untuk melihat-lihat ruang-demi ruang yang ada di rumah ini. Aku mulai dari ruang yang berada paling depan sendiri, setelah pintu kubuka dan ternyata tidak terkunci, kulonggokan kepalaku ke dalamnya, ternyata ini adalah merupakan kamar tidur pribadi oomku, kamarnya lebih luas dan perabotannya lebih mewah dibandingkan dengan kamar yang aku tempati, kemudian ruang yang kedua adalah kamar yang aku tempati, sekarang aku menuju ke ruang ketiga yang lebih kecil lagi.

Di dalamnya ada sebuah tempat tidur dengan ukuran satu orang saja, sebuah meja dan sebuah lemari kecil. Semuanya dalam keadaan rapi, bersih dan kosong alias tidak ada yang menempatinya, kemudian aku melangkahkan kakiku menuju ruang selanjutnya setelah keluar dari rumah induk, ada satu ruangan yang terkunci dengan gembok di depannya dan aku memastikan bahwa itu adalah gudang barang-barang yang tidak terpakai, kemudian sebelahnya ada dapur, kamar mandi kecil dan sebelahnya ada WC kecil juga, kemudian ada jalan berbelok menuju satu lorong kecil yang tidak panjang dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu dalam keadaan terbuka sedikit.
Aku menghampiri pintu itu dengan perlahan-lahan dan kulihat ke dalam, dan.. “Oh, My God!” ternyata ruangan ini adalah kamar Ujang, cukup sempit sekitar 2,5 X 3 meter saja, yang ada hanya sebuah tempat tidur kayu yang sederhana, sebuah meja kecil dan lemari kecil dan yang paling menarik perhatianku adalah di atas tempat tidur tergeletak tubuh kekar, padat berisi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam, dengan nafasnya yang teratur turun-naik. Ternyata Ujang kelelahan sehabis membereskan kebun dan memasak makan siang untukku, tapi ada satu bagian yang paling menarik perhatianku, yaitu jendolan yang cukup besar di selakangannya yang kadang-kadang bergerak seolah mengangguk-angguk. Tanganku sudah gatal sekali untuk menyentuh jendolan itu. Timbul peperangan dalam batinku untuk menyentuh jendolan itu saat Ujang sedang terlelap dalam tidurnya atau menunggu saat yang indah sampai nanti malam. Kalau nanti malam Ujang tidak mau dipegang bagaimana? Kan hilang kesempatan untuk merasakan jedolan si Ujang, kata hatiku yang lain.
Akhirnya, aku membatalkan untuk menyentuh jendolan Ujang, kututup kembali pintu kamarnya dan aku balik menuju kamarku sambil pikiranku terus tertuju pada jendolan itu, aku merusaha memejamkan mataku, tapi yang timbul justru bayangan jendolan milik Ujang yang menari-nari di pelupuk mataku, sampai akhirnya aku terlelap dengan sendirinya.
Aku terbangun, kulihat jam yang ada di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan hampir pukul 18.00, cukup lama juga aku tertidur siang ini. Segera aku menuju ke kamar mandi dan kubersihkan diriku akan tetapi kali ini aku tidak lama-lama berendam dalam bathup, setelah selai semuanya aku segera keluar kamar dan kudengar suara TV di ruang tengah, ternyata si Ujang sedang nonton TV sambil duduk di lantai kayu.
“Hallo Jang.””Eh, Mas Adi, baru bangun tidur yaa?”
“Iya nih, capek sekali.”
“Mas Adi tidurnya nyenyak sekali sampai menjelang magrib baru bangun.”
“Hmm.”
“Ayo makan malamnya dimakan, Mas Adi!” lanjut Ujang.
0 Response to "Heboh! Ngentot Anal dan Tetek Montok Siska 2"
Posting Komentar